Amal soleh telah dijelaskan
oleh Allah dalam Q.S Al-Kahf Ayat 107-108
Artinya : “Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana.”(Q.S 18 : 107-108)
Amal soleh secara sederhana dapat diartikan sebagai amal yang membereskan.
Kebalikan dari amal soleh ini adalah mapsadat
artinya merusak/kerusakan. Amal soleh bukan hanya tindakan empiris tapi juga
tindakan hati.
Landasan dari amal soleh adalah iman. Amal soleh dan iman selalu
beriringan. Amal ini akan bernilai atau menjadi sebuah ibadah jika didasari
keimanan yang benar. Idealnya amal soleh ini selaras dengan keimanan, karena amal
soleh ini seharusnya merupakan bentuk implementasi cerminan keimanan seseorang.
Amal soleh tanpa didasari iman tidak ada artinya dan begitupun sebaliknya.
Moral dan amal soleh sangat berbeda. Moral merupakan tradisi lokal yang
hanya berlaku, diakui dan dibenarkan di regional daerah/wilayah tertentu saja.
Sedangkan amal soleh ini bukan merupakan tradisi lokal melainkan suatu tuntunan
atau kewajiban semua orang yang mengakui bahwa dirinya adalah muslim atau
beragaman Islam sebagai konsekuensi dan implementasi keimanan/keyakinanya,
sehingga amal soleh ini dimanapun akan berlaku selama tidak keluar dari
tuntunanya yaitu Al-Quran dan Al-Hadits.
Selain itu perbedaan yang lainya yaitu, moral tidak memiliki dasar yang
kuat sedangkan amal soleh dasarnya jelas dan kuat yaitu iman.
Amal soleh ini bukan cara berprilku, tetapi amal soleh ini merupakan suatu
prinsip atau dasar. Sehingga amal soleh ini tidak membatasi teknis atau
caranya. Suatu tindakan atau prilaku akan bernilai amal soleh jika sesuai
dengan prinsipnya. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kepada kaum
hawa/perempuan dalam Q.S. Al-Ahzab : 59 untuk menutup auratnya (berkerudung/berjilbab),
tetapi Allah tidak membatasi harus dengan apa, bagaimana dan seperti apa gayanya menutupnaya. Gaya
berhijab di Arab Saudi pasti berbeda dengan di Indonesia hal ini tidak masalah
karena sesuai dengan tradisi atau kebiasaanya tapi yang terpenting adalah
prinsipnya tetap kita pegang yaitu menutup aurat sebagai printah dari Allah.
Jadi dalam amal soleh maupun syariat yang lainya dalam Islam yang terpenting
adalah prinsipnya harus kita jaga bukan teknisnya. Masalah teknis ini
sebetulnya bebas selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits tapi akan
lebih baik jika disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kebiasaan
disekitarnya agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai setempat.
Amal soleh yang dikehendaki dan dicintai oleh Allah yaitu amal yang
dilakukan terus-menerus atau kontinyu dengan kata lain yaitu konsisten
(istiqomah). Yang dimaksud konsisten/istiqomah disini yaitu amalnya terus naik
dan tidak sebaliknya atau menurun. Setidaknya amal yang baik itu tetap (stabil)
tidak naik turun karena jika naik turun berarti itu tidak konsisten
(istiqomah). (Oleh Agus Budiman, 2015)
Taqdir
digambarkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 67.
وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ
وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ
مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ
الْمُتَوَكِّلُونَ -٦٧-
Artinya :
“Dan
dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu
gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku
tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu
hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah
orang-orang yang bertawakal.”
Islam
adalah suatu ajaran hidup yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW secara
berangsur-angsur dan ajaran yang ditunkan ini dikenal dengan istilah wahyu yang
kemudian dikumpulkan/disatukan dan dikenal dengan kitab suci/Al-Quran.
Salah
satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Islam adalah iman. Iman berbeda
dengan percaya. Iman adalah percaya dengan sepenuhnya sehingga berefek terhadap
sikap dan perilaku hidupnya. Sementara percaya, ya hanya sebatas percaya tidak
sepenuhnya dan tidak berefek terhadap sikap/prilaku dalam hidupnya. Contoh
percaya: kita percaya bahwa HP ada yang membuatnya, tapi kita tidak percaya terhadap
pembuatnya. Sementara Iman contohnya: Kita percaya bahwa bumi dan seisinya ada
yang menciptakan, dan kita percaya terhadap pembuatnya yaitu Allah SWT.
Taqdir,
ihktiar dan tawakal tidak bisa dipisahkan, karena ini merupakan satu kesatuan.
Jika salah satunya dipisahkan maka akan terjadi ketidak seimbangan. Contohnya
jika tawakal tanpa ikhtiar/usaha maka hal tersebut tidak bisa dikatakan
tawakal, karena tawakal itu sebenarnya usaha yang maksimal kemudian hasilnya
diserahkan kepada Allah. Itu baru tawakal, jika selain itu berarti bukan
tawakal.
Taqdir
itu banyak tinggal kita memilihnya. Contohnya ketika Umar dan sahabtanya mau
mengunjungi suatu negri dan salah satu jalan menuju kesana harus melalui daerah
diman daerah tersebut sedang musimnya penyakit menular. Tapi Umar setelah
diberikan pilihan oleh sahabtanya antara melewatinya dan tidak. Tapi umar
memilih jalan yang lain tidak melewati daerah itu. Kata Umar “Aku memilih
meninggalkan taqdir yang buruk dan menuju taqdir yang baik”. Sebenarnya Allah
menetukan bagaimana kita bersikap. Allah mengikuti prasangka kita, Jika kita
berprasangka baik terhadap sesuatu maka Allah pun akan memberikan sesuatu itu yang baik kepada
kita.
Taqdir berasal dari kata
qodar yang artinya ukuran, terukur atau sesuatu yang terukur. Menurut beberapa sumber taqdir dibagi 2 yaitu taqdir yang tidak bisa dirubah dan taqdir yang bisa
dirubah. Taqdir yang tidak bisa dirubah contohnya jenis kelamin, kelahiran dan
kematian. Adapun taqdir yang bisa dirubah contohnya nasib, dan jodoh.
Dalam
hal taqdir, ada 2 macam aliran yang sangat berbeda dalam memahami taqdir ini,
yaitu :
1) Aliran
jabariah (Totalisme/patalisme), aliran ini memahami bahwa qodar itu menyerahkan
segala sesuatunya kepada Allah SWT. Baik itu nasib, jodoh, kematian, miskin
kaya dan yang lainya.
2) Aliran
qodariyah, aliran ini meyakini bahwa semuanya ditentukan oleh mausia, dan Allah
hanya memberi potensi. Apakah kita kan menggunakan potensi tersebut ataukah
tidak.
Kondisi
di Indonesia dalam hal memahami qodar ini yaitu campuran atu dua-duanya
digunakan, tapi aliran jabariyah lebih mendominasi yaitu jika di persenkan
sekitar 80% sementara aliran qodariah sekitar 20% saja.
Kita
tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya (masa depan) pada kita, namun kita
dengan kondisi seperti ini harus merasa beruntung karena jika seandainya kita
tahu apa yang akan terjadi pada kita di masa yang akan datang, kemungkinan
besar yang akan terjadi kita akan menjadi lalai karena berpikir “buat apa
cepe-cape berusaha toh nanti juga hasilnya begitu”. Itulah kemungkian yang kan
terjadi.
Perbedaan
tawakal dan prustasi; tawakal berarti optimis atau ada harapan, sementara
prustasi yaitu tidak ada harapan atau pesimis. Orang yang bunuh diri berarti
orang tersebut tidak percaya taqdir.
(Oleh Agus Budiman, 2015)
Wahyu
Allah atau Al-Quran/ajaran hidup (Islam) pada prinsipnya adalah sebuah amanah
yang besar yang harus dijalankan semata-mata karena-Nya dan bukan karena yang
lain. Karenanya tidak semua amanah ini mampu dipikul/dijalankan oleh semua
mahluk-Nya. Dalam satu keterangan Allah SWT telah lebih dulu menawarkan amanah
ini kepada salah satu ciptaan-Nya selain manusia yaitu salah satunya gunung,
tapi gunung yang begitu kokohnya tidak mampu menerimanya. Namun manusia ketika
Allah menawarkan amanah ini dengan begitu percaya dirinya siap menerima dan
menjalankan amanah/wahyu yang begitu besar ini. Tapi dalam hal ini ada makna
yang tersirat yang dapat kita ambil, yaitu Allah dengan begitu bijaknya menawarkan
amanah-Nya tersebut kepada siapa yang menyanggupinya, tidak langsung menunjuk
mahluk/ciptaanya yang paling mampu. Padahal Allah Maha mengetahui dan Maha
Kuasa atas segala-galanya. Dan dengan cara Allah yang demikian, akhirnya
manusialah yang mau menerima dan menjalankan wahyu/amanah Allah tersebut atas
kesanggupanya.
Kriteria Pembawa Kebenaran
(Risalah)
Seorang
pembawa kebenaran atau Risalah tentu bukanlah manusia yang tidak meiliki
kriteria-kriteria terntu sebagai dasar untuk menjalankan dan menegakan
kebenaran tersebut. Allah SWT pasti memilih seorang pembawa kebenaran ini yang
benar-benar memenuhi syarat/kriteria. Pembawa kebenaran ini biasanya mendapat
gelar/sebutan langsung dari Allah, yaitu Nabi/Rasulullah (Rasul Allah). Lantas
apakah kriteria atau karakter-karakter yang dimiliki seorang Rasulullah (Rasul
Allah), diantaranya adalah sebagai berikut :
1)
Sidiq (Benar/Jujur)
Pembawa
kebenaran harus memiliki karakter jujur/selalu selalu berkata benar. Diluar kriteria
ini maka bukan lagi pembawa kebenaran.
2)
Tabligh (Menyampaikan)
Seorang
Rasul Allah tentu harus mampu menyampaikan apa yang diterimanya dari Allah SWT
yaitu berupa wahyu atau kebenaran. Tidak mampu menjalankan ini atau sengaja
tidak menyampaikanya (menutupi) maka gugurlah kriteria atau gelar
Nabi/Rasullahnya tersebut.
3)
Amanah (Dapat Dipercaya)
Amanah
erat kaitanya dengan jujur. Apabila kriteria sidiq (jujur) telah ada maka
amanah ini akan mengikuti atau muncul dengan sendirinya. Jadi amanah adalah
bagian dari salah satu kriteria pembawa kebenaran dan tidak bisa dipisahkan
dari jujur karena amanah merupakan efek dari jujur.
4)
fathonah (Cerdas)
Seorang
pembawa kebenaran yang telah memiliki karakter sidiq, tabligh dan amanah,
biasanya fathonah atau cerdas. Fatonah akan sangat dibutuhakan oleh seorang
pembawa kebenaran/peminpin untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Dan hal
ini telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW ketika dipercaya oleh orang-orang
kuraisi yang tengah berselisih masalah penempatan hajar aswad di mekah untuk
memberikan solusinya, dan Rasulullah dengan sangat bijak meberikan solusi
permasalahan tersebut dengan menempatkan hajar aswad tersebut secara
bersama-sama. Hal ini menggambarkan bagaiman kecerdasan Rasulullah.
Perbandingan Antara Wahyu dan Akal
Budi
Adapun
perbedaan antara produk (hukum/aturan) yang dihasilkan antara dari Allah yaitu
berupa wahyu dan manusia yaitu akal budi, dalam hal ini perbedaanya sangat jauh
sekali, dianytaranya :
Perbedaan
|
|
Wahyu Tuhan
|
Akal Budi
|
1)
Tak terikat oleh ruang dan waktu
|
1)
Terikat oleh ruang dan waktu
|
2) Tak
tersentuh oleh perubahan
|
2)
Selalu bergerak/mengalami perubahan
|
3) Mutlak
benar
|
3)
Kebenaranya bersifat relati/spekulatif
|
4) Abadi
|
4)
Tidak Abadi
|
5)
Dimensi Ruhani
|
5)
Dimensi fisik,psikologis dan pemikiran
|
Misi Kenabian
Seorang
Nabi atau Rasul Allah diutus kebumi ini memiliki fungsi dan tujuan/misi yang
jelas, seperti diantaranya :
1)
Memurnikan aspek ruhani (spiritual manusia)
2)
Menegakan dan menuntun manusia kepada kebenaran yang sejati
3)
Penyeimbang antara urusan jasmani (duniawi) dengan ruhani (ukhrawi)
4)
Menguatkan ruhaniah manusia
5)
Kemaslahatan umat manusia (kedamaian, keadilan dan kebenaran)
6) Jembatan
spiritual untuk memperkenalkan manusia dengan Tuhanya.
Kita
harus menyadari bahwa dengan adanya Nabi/Rasul sehingga kita dapat ‘mengenal’ Allah dan urusan-urusan
agama yang lainya. Kita tidak tahu bagaimana seandainya jika tidak di utus Nabi
dan Rasul sebagai jembatan penghantar wahyu Allah kepada mkita. Oleh karenaya
patut kita syukur dengan menjalankan sunah-sunahnya.
Perlu
kita sadari juga bahwa Allah pada dasarnya tidak berbahasa, yang berbahasa itu
mahluknya. Allah menurunkan wahyu-Nya kepada manusia dengan bahasa sebenarnya
itu adalah terjemahan atau wahyu Allah yang diekpresikan oleh Rasul dengan bahsasa
yang kita fahami, sebenarnya dari Allah itu ntah bagaimana menyampaikan
wahyunya kepada Rasul karena Allah tidak berbahasa seperti mahluknya. Karena
itulah Rasul bisa dikatakan sebagai “Penerjemah” wahyu Allah sehingga bisa
sampai kepada kita dan dapat kita pahami. Bahasa yang yang kita tahu bukanlah
bahasa Allah atau wahyu ini adalah bahasa
mahluknya, Allah dan mahluknya tidak sama dan tidak bisa dibandingkan karena
Allah tidak ada bandinganya.
Misi Kenabian Berjenjang
1) Muhammad
SAW adalah Rasul terakhir, tidak ada nabi da Rasul setelahnya
2) Risalah
yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah pelengkap dari risalah lainya dari Tuhan
kepada para Nabi dan Rasul sebelumnya.
3) Ajaran
Islam merupakan kompilasi dari berbagai ajaran-ajaran para Nabi dan Rasul
sebelumnya
4) Islam
sebagai satu-satunya agama terakhir yang diridhoi oleh Allah SWT
Silsilah Kenabian
Nabi
Ibrahim AS memiliki dua orang istri yaitu Siti Hajar dan Siti Sarah. Dari siti
hajar memiliki anak yaitu Nabi Ismail AS dan seterusnya hingga keturunanya yang
menjadi Nabi yaitu Nabi Muhammad SAW. Sementara itu dari siti sarah melahirkan
anak yaitu Nabi Ishak AS dan keturunan-keturunan berikutnya banyak yang menjadi
Nabi seperti Nabi Yakub AS dan seterusnya sampai kepada Nabi Isa AS.
(Oleh Agus Budiman, 2015)
Yakin adalah rasa percaya kita terhadap
sesuatu. Keyakinan akan mempengaruhi segala prilaku manusia. Ada 4 tingkatan
yang membentuk keyakinan, diantaranya :
1)
Indarawi
(fisik)
2)
Pemikiran
(thought)
3)
Psikologis
(jiwa)
4)
Rohani
(Spiritual)
1.
Indarawi (fisik)
Indrawi atau fisik
dibatasi oleh kemampuan indra terhadap pakta fisik yang di indranya. Fisik itu
terlihat dan mudah sekali ditebak. Aspek fisik sangat terbatas dan
berubah-ubah. Sebagai contoh fisik manusia akan berubah seiring bertambahnya
usia dan kecapean bekerja. Jadi fisik tidak bisa dijadikan standar keyakinan.
2.
Pemikiran (thought)
Pemikiran berkaitan
dengan ilmu. Pemikiran itu terbatas berdasarkan hasil kajian-kajian atau
penelitian tertentu. Pemikiran juga tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya
standar keyakinan, karena jika hanya menggunakan pikiran/akal maka hampir semua
yang diajarkan dalam agama terutama masalah keyakinan atau tauhid itu semua
tidak masuk/tidak bisa diterima dengan akal. Sebagai contoh kenapa shalat subuh
2 rakaat dan shalat dzuhur 4 rakaat? Pertanyaan ini tidak bisa dijelaskan
dengan akal karena bukan ranahnya.
3.
Psikologis (jiwa)
Psikologis sifatnya tidak
bisa ditebak, misalnya yang kita lihat kondisi seseorang A, maka yang terjadi
sebenarnya belum tentu A. Jiwa mampu mengendalikan pemikiran dan fisik. Jiwa/psikologis
erat kaitanya dengan rasa, yaitu rasa suka dan tidak. Dan Allah (Yang Maha
Pencipta) tidak bisa dirasakan. Jadi jiwa atau psikologispun tidak bisa
dijadikan sebagai satu-satunya standar keyakinan.
4.
Rohani (spiritual)
Aspek ini tidak bisa
dilihat, didengar, dirasakan dan dipahami dengan akal. Allah itu bukan ranahnya
fisik, pemikiran dan jiwa atau perasaan. Keyakinan yang aman/benar itu hanya
bertumpu atau berdasar pada Al-Qur’an dan Asunah/Hadits.
Jadi Allah itu goib
atau tidak bisa dilihat. Sehingga tidak mungkin kita meyakini keberadaan Allah
dengan indrawi kita, karena kemampuan indrawi sangat terbatas. Indrawi dapat
berfungsi jika ada objek yang diindranya. Allah tidak bisa dipikirkan dengan
akal, seperti bagaimana Allah, dimana keberadaanya. Karena Allah bukan ranahnya
akal. Selain itu Allahpun tidak bisa kita rasakan. Semua hal yang bisa diindra,
dipikirkan dan dirasakan sifatnya terbatas dan lebih ke benda. Sehinga ketiga
hal tersebut tidak mungkin bisa jadikan standar untuk meyakini Allah. Tetapi
Allah bisa kita yakini hanya dengan berdasarkan ketaklidan kita terhadap
Al-Qur’an dan Asunah/Hadits. Dan inilah yang dikenal dengan tingkat rohani atau
spiritual.
(Oleh Agus Budiman, 2015)
(Oleh Agus Budiman, 2015)

