IMAN DAN KETENANGAN JIWA



IMAN DAN KETENANGAN JIWA
Oleh: Agus Budiman

Dalam Q.S Al-Fajr ayat 27-30 Allah SWT telah menerangkan dan menggambarkan tentang ketenangan jiwa ini.


Artinya : (27) “Wahai jiwa yang tenang! (28) Kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang rida dan Diridai-Nya. (29) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, (30) dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Jiwa yang tenang dalam Al-Quran surat al-fajr tersebut diatas disebutkan dengan kata nafsul mutmainah. Seseorang yang ucapan dan prilakunya masih terjaga hal ini berarti orang tersebut masih memiliki jiwa yang tenang atau nafsul mutmainah. Karena jika seseorang sudah tidak memiliki lagi nafsul mutmainah maka jiwa yang muncul atau keluar adalah selain jiwa mutmainah bisa jadi sikap dan prilakunya seperti prilaku atau jiwa binatang dengan kata lain sudah tidak lagi terjaga sikap dan prilakunya.

Jiwa yang tenang sangat berkaitan dengan tawakal. Sulit jika ingin memperoleh jiwa yang tenang tanpa bertawakal kepada Allah bahkan mungkin tidak akan dapat karena idealnya seorang yang beriman hanya bergantung dan berharap kepada Allah SWT saja tidak kepada yang lain. Jadi ketenangan jiwa dan tawakal itu merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dimana tawakal merupakan sebab terjadinya jiwa yang tenang atau jiwa yang tenang merupakan suatu efek atau produk dari tawakal.

Ketenangan atau dengan kata lainya dikenal dengan istilah tumaninah. Tumaninah ini akan didapat hanya dengan jikrullah atau berjikir kepada Allah. Berjikir yang dimaksud bukan hanya memuja dan memujinya sebatas dilisan saja melainkan berjikir yang sesungguhnya itu adalah mengingat dan merenungi segala kekuasaan-Nya sehingga akan timbul kesadaran dan pengakuan bahwa Allah itu maha segala-galanya sementara kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan segala kekuasaan-Nya. Apabila hal tersebut telah dicapai maka yang selanjutnya adalah munculnya kebergantungan kita kepada Allah (bertawakal) karena kita telah menyadari dan mengakui bahwa Dialah maha segala-Nya. Dan apabila tawakal sudah tercapai maka ketenangan jiwalah sebagai buah dari itu semua.

Kunci ketenangan jiwa yang lainya yaitu tidak pernah berprasangka buruk kepada Allah, tetapi selalu berprasangka baiklah kepada-Nya. Karena ada keterangan yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu tergantung kepada prasangka hambanya. Apabila hambanya berprasangka baik kepada Allah maka Allahpun akan memberikan yang baik kepadanya, dan begitupun sebaliknya, apabila seseorang berprasangka buruk kepada Allah maka Allahpun memberikan hal yang demikian kepada hamba-Nya tersebut.

Pondasi dari terwujudnya ketenangan jiwa dan tawakal adalah keimanan. Jika seseorang imanya bagus maka orang tersebut akan merasakanketenangan jiwa dalam hidupnya, namun apabila seseorang sudah tidak lagi memiliki iman maka arang tersebut biasanya selalu merasa kegelisahan.

Ketenangan jiwa sangat penting untuk diraih karena jika tidak akan berakibat kepada permasalahan jiwa yang lainya. Contohnya stress, gila dan sigizoveronia (sejenis gila namun masih bisa berkomunikasi dengan manusia normal walaupun sering bertingkah diluar kewajaran). Dan ketenangan jiwa ini akan didapat jika hidupkita sepenuhnya mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya yaitu Al-Qur’an dan Hadits.






by Unknown. No Comments
Leave a Comment