TAQDIR



 Taqdir digambarkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 67.

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لاَ تَدْخُلُواْ مِن بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُواْ مِنْ أَبْوَابٍ مُّتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنكُم مِّنَ اللّهِ مِن شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ -٦٧-

Artinya :
“Dan dia (Ya‘qub) berkata, “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berbeda; namun demikian aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanyalah bagi Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula bertawakallah orang-orang yang bertawakal.”

Islam adalah suatu ajaran hidup yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dan ajaran yang ditunkan ini dikenal dengan istilah wahyu yang kemudian dikumpulkan/disatukan dan dikenal dengan kitab suci/Al-Quran.

Salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Islam adalah iman. Iman berbeda dengan percaya. Iman adalah percaya dengan sepenuhnya sehingga berefek terhadap sikap dan perilaku hidupnya. Sementara percaya, ya hanya sebatas percaya tidak sepenuhnya dan tidak berefek terhadap sikap/prilaku dalam hidupnya. Contoh percaya: kita percaya bahwa HP ada yang membuatnya, tapi kita tidak percaya terhadap pembuatnya. Sementara Iman contohnya: Kita percaya bahwa bumi dan seisinya ada yang menciptakan, dan kita percaya terhadap pembuatnya yaitu Allah SWT.

Taqdir, ihktiar dan tawakal tidak bisa dipisahkan, karena ini merupakan satu kesatuan. Jika salah satunya dipisahkan maka akan terjadi ketidak seimbangan. Contohnya jika tawakal tanpa ikhtiar/usaha maka hal tersebut tidak bisa dikatakan tawakal, karena tawakal itu sebenarnya usaha yang maksimal kemudian hasilnya diserahkan kepada Allah. Itu baru tawakal, jika selain itu berarti bukan tawakal.

Taqdir itu banyak tinggal kita memilihnya. Contohnya ketika Umar dan sahabtanya mau mengunjungi suatu negri dan salah satu jalan menuju kesana harus melalui daerah diman daerah tersebut sedang musimnya penyakit menular. Tapi Umar setelah diberikan pilihan oleh sahabtanya antara melewatinya dan tidak. Tapi umar memilih jalan yang lain tidak melewati daerah itu. Kata Umar “Aku memilih meninggalkan taqdir yang buruk dan menuju taqdir yang baik”. Sebenarnya Allah menetukan bagaimana kita bersikap. Allah mengikuti prasangka kita, Jika kita berprasangka baik terhadap sesuatu maka Allah pun  akan memberikan sesuatu itu yang baik kepada kita.

Taqdir berasal dari kata qodar yang artinya ukuran, terukur atau sesuatu yang terukur. Menurut beberapa sumber taqdir dibagi 2 yaitu taqdir yang tidak bisa dirubah dan taqdir yang bisa dirubah. Taqdir yang tidak bisa dirubah contohnya jenis kelamin, kelahiran dan kematian. Adapun taqdir yang bisa dirubah contohnya nasib, dan jodoh.

Dalam hal taqdir, ada 2 macam aliran yang sangat berbeda dalam memahami taqdir ini, yaitu :
1) Aliran jabariah (Totalisme/patalisme), aliran ini memahami bahwa qodar itu menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Baik itu nasib, jodoh, kematian, miskin kaya dan yang lainya.
2)   Aliran qodariyah, aliran ini meyakini bahwa semuanya ditentukan oleh mausia, dan Allah hanya memberi potensi. Apakah kita kan menggunakan potensi tersebut ataukah tidak.

Kondisi di Indonesia dalam hal memahami qodar ini yaitu campuran atu dua-duanya digunakan, tapi aliran jabariyah lebih mendominasi yaitu jika di persenkan sekitar 80% sementara aliran qodariah sekitar 20% saja.

Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya (masa depan) pada kita, namun kita dengan kondisi seperti ini harus merasa beruntung karena jika seandainya kita tahu apa yang akan terjadi pada kita di masa yang akan datang, kemungkinan besar yang akan terjadi kita akan menjadi lalai karena berpikir “buat apa cepe-cape berusaha toh nanti juga hasilnya begitu”. Itulah kemungkian yang kan terjadi.

Perbedaan tawakal dan prustasi; tawakal berarti optimis atau ada harapan, sementara prustasi yaitu tidak ada harapan atau pesimis. Orang yang bunuh diri berarti orang tersebut tidak percaya taqdir. (Oleh Agus Budiman, 2015)

by Unknown. No Comments
Leave a Comment