Yakin adalah rasa percaya kita terhadap
sesuatu. Keyakinan akan mempengaruhi segala prilaku manusia. Ada 4 tingkatan
yang membentuk keyakinan, diantaranya :
1)
Indarawi
(fisik)
2)
Pemikiran
(thought)
3)
Psikologis
(jiwa)
4)
Rohani
(Spiritual)
1.
Indarawi (fisik)
Indrawi atau fisik
dibatasi oleh kemampuan indra terhadap pakta fisik yang di indranya. Fisik itu
terlihat dan mudah sekali ditebak. Aspek fisik sangat terbatas dan
berubah-ubah. Sebagai contoh fisik manusia akan berubah seiring bertambahnya
usia dan kecapean bekerja. Jadi fisik tidak bisa dijadikan standar keyakinan.
2.
Pemikiran (thought)
Pemikiran berkaitan
dengan ilmu. Pemikiran itu terbatas berdasarkan hasil kajian-kajian atau
penelitian tertentu. Pemikiran juga tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya
standar keyakinan, karena jika hanya menggunakan pikiran/akal maka hampir semua
yang diajarkan dalam agama terutama masalah keyakinan atau tauhid itu semua
tidak masuk/tidak bisa diterima dengan akal. Sebagai contoh kenapa shalat subuh
2 rakaat dan shalat dzuhur 4 rakaat? Pertanyaan ini tidak bisa dijelaskan
dengan akal karena bukan ranahnya.
3.
Psikologis (jiwa)
Psikologis sifatnya tidak
bisa ditebak, misalnya yang kita lihat kondisi seseorang A, maka yang terjadi
sebenarnya belum tentu A. Jiwa mampu mengendalikan pemikiran dan fisik. Jiwa/psikologis
erat kaitanya dengan rasa, yaitu rasa suka dan tidak. Dan Allah (Yang Maha
Pencipta) tidak bisa dirasakan. Jadi jiwa atau psikologispun tidak bisa
dijadikan sebagai satu-satunya standar keyakinan.
4.
Rohani (spiritual)
Aspek ini tidak bisa
dilihat, didengar, dirasakan dan dipahami dengan akal. Allah itu bukan ranahnya
fisik, pemikiran dan jiwa atau perasaan. Keyakinan yang aman/benar itu hanya
bertumpu atau berdasar pada Al-Qur’an dan Asunah/Hadits.
Jadi Allah itu goib
atau tidak bisa dilihat. Sehingga tidak mungkin kita meyakini keberadaan Allah
dengan indrawi kita, karena kemampuan indrawi sangat terbatas. Indrawi dapat
berfungsi jika ada objek yang diindranya. Allah tidak bisa dipikirkan dengan
akal, seperti bagaimana Allah, dimana keberadaanya. Karena Allah bukan ranahnya
akal. Selain itu Allahpun tidak bisa kita rasakan. Semua hal yang bisa diindra,
dipikirkan dan dirasakan sifatnya terbatas dan lebih ke benda. Sehinga ketiga
hal tersebut tidak mungkin bisa jadikan standar untuk meyakini Allah. Tetapi
Allah bisa kita yakini hanya dengan berdasarkan ketaklidan kita terhadap
Al-Qur’an dan Asunah/Hadits. Dan inilah yang dikenal dengan tingkat rohani atau
spiritual.
(Oleh Agus Budiman, 2015)
(Oleh Agus Budiman, 2015)
This entry was posted on Kamis, 28 Mei 2015 at 09.17. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response.

